Senin, 21 November 2011

Laporan Perjalanan ke Cameron Highland


Sabtu dan Minggu yang lalu libur. Saya dan 50 mahasiswa pergi ke Cameron Highland, melihat-lihat bagaimana sistem pertanian di sana. Jumlah penduduk sekitar 40.000 orang, sebuah “desa” kecil tetapi dalam sehari minimal sejuta ringgit (sekitar 3 milyar rupiah) terjadi transaksi jual beli hasil pertanian di sana. Tak heran jika ada 8 buah bank bertengger di Cameron Highland, sebuah dataran tinggi di Malaysia.
Tikungan-tikungan tajam, tanjakan, turunan membuat perjalanan kurang begitu nyaman. Sebetulnya lebih nyaman jalan dari Bogor ke Puncak Cipanas. Tetapi, karena penasaran ingin lihat “Pick Your Own” Strawberry, serta pertanian moderen lainnya, yah dibela-belain lah ke sana. Di sepanjang jalan terlihat seperti rak-rak buku, ternyata itu adalah rak-rak tanaman strawberry yang ditanam secara hidroponik, rapi, bersih, dan enak dipandang. Banyak orang tanam strawberry, hampir di sepanjang jalan, dari yang skala kecil hingga luas sekali. Jualan strawberry segar, serta produk-produknya seperti jus, manisan, permen, ice cream, coklat yang kesemuanya bernuansa strawberry. Berangkat dari Tanjung Malim jam 10 pagi, setelah istirahat minum teh tarik di Tapah, jam 12 kami sudah sampai di Cameron Highland. Setelah makan siang, kami berkunjung ke pusat penelitian MARDI, yang sudah berdiri sejak 1925, didirikan oleh pemerintah Inggris. Desain arsitektur pertamanan, gaya Inggris banget, bunga warna warni, ada pergola, ada kolam ikan, serta 28 plot rumah plastik berbagai tanaman hias dan buah-buahan, apel, pear, anggur, tomat, kubis, strawberry, bunga krisan, marygold dll. Indah sekali.
Keesokan harinya kami berkunjung ke perusahaan pertanian moderen. Pemiliknya adalah Mr. Kwang, yang umurnya sudah 70 tahun, dia sendiri yang menyambut dan memberi penerangan-penerangan tentang kebunnya yang sangat luas. Sangat enerjik, selama hidupnya 70 tahun belum pernah ke rumah sakit. Sehat sekali, karena banyak makan tomat yang sudah masak. Kalau makan tomat jangan yang masih setengah matang, makan yang sudah betul-betul merah. Itu sangat bagus untuk kesehatan. Mr Kwang yang tidak pernah sekolah pertanian, memiliki 200 pekerja, hasil pertaniannya dijual ke Singapura dan untuk supermarket dalam negeri. Ilmu pertaniannya lebih-lebih dari seorang doktor atau mungkin profesor. Cara bicaranya juga lugas, semangat dan apa adanya. Lahan pertaniannya dikelola secara moderen, dengan sistem hidroponik, atau istilah di sini Fertigasi, pemupukan dengan melalui irigasi. Tanaman tomat yang ditanam dengan cara ini dapat tahan hingga 2 tahun dan produktivitasnya masih baik.
Malaysia sendiri sebetulnya masih impor sayur-sayuran dari Indonesia dan Thailand. Dalam sebulan 3 Milyar RM dibelanjakan untuk sayur saja. Kenapa tidak tanam sendiri, seperti usahanya Mr Kwang? Lahan pertanian yang tidak ada lagi, membuat mereka harus impor sayuran. Hari Minggu itu juga kami berkunjung ke Cactus Valley, bermacam ragam kaktus ada di sana. Dari kaktus raksasa hingga yang kecil-kecil, berbagai tanaman hias juga ada di situ. Agak ke atas sedikit, kembali kami temui pertanian strawberry yang sangat luas.
Pukul 11 malam akhirnya kami tiba di Tanjung Malim. Ilmu tidak harus didapat dari bangku sekolah atau kuliah. Jalan-jalan akhir pekan kami dapat menambah wawasan ilmu dan juga pengalaman hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar