Selasa, 25 Januari 2011

SIMPATI SOSIAL


A. Pengertian Simpati Dan Pendapat Para Pakar

Simpati adalah Sikap menaruh perhatian, ikut merasakan dan memberi dukungan emosional kepada orang yang sedang menderita.

Menurut Soerjono Soekanto:
Ø  Proses seseorang merasa tertarik dengan orang lain. Agar dapat berlangsung, diperlukan adanya pengertian antara kedua belah pihak.

Menurut Max Weber:
Ø  Perasaan Simpati itu bisa juga disampaikan kepada seseorang / kelompok orang atau suatu lembaga formal pada saat –saat khusus. Misalnya apabila perasaan Simpati itu timbul dari seorang perjaka terhadap seorang gadis / sebaliknya kelak akan menimbulkan perasaan cinta kasih / kasih sayang.

Menurut Gillin:
Ø  Merupakan proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Dorongan utama pada Simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.

Menurut Kelompok Kami (Kelompok I):
Ø  Sikap peduli terhadap sesama yang didasari dengan perasaan ikut merasakan penderitaan orang lain dengan sepenuh hati.

B. Latar Belakang Dan Perkembangan Simpati

Simpati adalah Suatu proses kejiwaan dimana seseorang individu merasa tertarik kepada seseorang atau sekelompok orang karena sikapnya, penampilannya, wibawanya atau perbuatannva yang sedemikian rupa. Dikatakan sedemikan rupa, karena bagi sebagian orang, sikap, penampilan, wibawa atau perbuatannya itu biasa-biasa saja. Proses Simpati ini mempunyai peranan penting dalam keberlangsungan interaksi sosial yang di bangun oleh individu maupun kelompok masyarakat.
Simpati adalah perasaan ketertarikan seseorang terhadap orang lainnya. Pengertian ketertarikan disini bukan ketertarikan dalam artian hubungan romantis, tapi dugaan atau pendapat bahwa orang yang dituju itu adalah orang yang menarik. Mudahnya, seperti mengatakan, “Wah, orang yang menarik.” Bisa jadi rasa ini timbul ketika melihat seseorang yang mampu melakukan hal-hal tertentu yang dianggap unik atau hebat, atau sekedar rasa tertarik secara fisik saja. Misalnya seperti, “Wah, gadis itu cantik ya.” Umumnya terjadi pada pandangan sekilas.
Respek adalah rasa hormat terhadap orang lain. Bukan sekedar hormat saja, tapi juga hormat yang disertai rasa kekaguman. Bisa dibilang ini adalah tingkat lanjutan dari Simpati yang dijabarkan di atas (bukan empati; jika empati maka yang kita bicarakan sudah lain hal). Respek bukan sekedar tertarik dan kagum karena hal-hal yang dilihat secara sekilas saja, tapi rasa respek terhadap orang tertentu baru muncul setelah seseorang mengetahui pribadi atau perbuatan si orang yang direspek dengan lebih dalam. Misalnya setelah berkenalan dengan seorang teman, kemudian dalam tempo waktu tertentu menyadari bahwa dia ahli dalam suatu bidang, bisa jadi timbul rasa respek terhadap teman itu.
Rasa keintiman, dalam hal ini, bisa dikategorikan sebagai tingkat yang paling mendalam. Dan pada umumnya lebih sering terjadi pada lawan jenis. Rasa keintiman sudah lebih dari sekedar respek; ada rasa posesif dan unsur romantis yang ditambah dalam perasaan yang ini. Misalnya si Andi yang tadinya hanya sekedar respek dengan si Anti karena pintar, kemudian setelah mengenal pribadi Anti lebih jauh dan lebih dalam lagi, timbul rasa keintiman yang dimaksud. Keintiman disini bukan konotasi negatif dalam artian ‘hubungan’ antara laki-laki dan perempuan, tapi rasa ketertarikan yang lebih. Atau beberapa orang lebih suka menyebutnya cinta. Biasanya proses ini terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama daripada Simpati maupun respek.
Terkadang, bagi manusia yang hati dan perasaannya begitu subjektif dan bisa berubah-ubah tergantung bagaimana cara ia memandang sesuatu, agak sulit untuk memisahkan bagian-bagian dari perasaan yang sudah dipaparkan di atas. Prasangka dan praduga terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain pun mendukung sikap manusia yang satu ini. Hal ini terutama akan makin sulit ketika sudah terjadi pada lawan jenis.
Kadang tembok pembatas antara rasa respek dan keintiman terlihat begitu tipis, dan bukan tidak mungkin kalau kadang manusia menembusnya tanpa menduga apa yang sebenarnya ada di baliknya.
Sikap Simpati lebih cenderung pada rasa belas kasihan, tetapi tidak dinyatakan dalam sikap yang konkret untuk menolong. Simpati akan dapat berkembang jika terdapat saling pengertian dari kedua belah pihak. Simpati disampaikan kepada seseorang pada saat-saat tertentu, bisa saat bergembira bisa pula saat bersedih. Misalnya, saat seseorang tertimpa musibah. Perasaan Simpati bisa menimbulkan perasaan sayang.
Pada dasarnya dorongan manusia untuk melakukan interaksi dengan orang lain salah satunya karena orang merasa tertarik dengan orang tersebut. Dalam suatu interaksi sosial pengaruh psikis yang paling mendasar adalah Simpati seseorang terhadap orang lain. Pada dasarnya Simpati adalah suatu sikap tertarik kepada orang lain karena sesuatu hal mungkin karena menarik penampilannya, mungkin karena kebijaksanaanya atau karena pola pikir yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang yang menaruh Simpati.
Kata Simpati berasal dari kata Yunani, “sympatheia” yang berarti mempunyai perasaan yang sama. Simpati mengandung kemampuan untuk ambil bagian dengan perasaan orang lain yang sedang menderita. Perasaan ini dilandasi oleh kemampuan untuk menaruh perhatian atas diri orang lain.
Simpati mempunyai hubungan dengan penyimpangan sosial yaitu sebagai sikap positif dalam penyimpangan sosial. Sikap positifnya yaitu memperbaiki segala pelaku penyimpangan sosial menjadi pelaku penyimpangan sosial yang positif.

C. Tujuan, Fungsi, Dan Faktor-Faktor Simpati

Tujuan Simpati:
  1. Untuk memahami orang lain yang sedang dalam kesusahaan
  2. Mengurangi masalah-masalah yang ada
  3. Agar terjadi saling pengertian diantara kedua belah pihak
  4. Untuk menyatakan suatu hal kepada seseorang
  5. Untuk menyatakan pendapat mengenai suatu hal

Fungsi Simpati:
  1. Membuat seseorang sanggup untuk memahami pandangan atau situasi pelaku penyimpangan sosial
  2. Orang dapat mendukung pelaku penyimpangan yang positif
  3. Orang dapat mendorong pelaku penimpangan yang negatif untuk memperbaiki diri
  4. Dapat meringankan beban orang yang sedang tertimpa masalah
  5. Dapat menjadi perantara dalam menyatakan suatu hal

Faktor-faktor Simpati:
  1. Kesamaan pandangan
  2. Kesamaan kepentingan
  3. Kesamaan faktor-faktor histois
  4. Kesamaan rasial

D. Contoh-Contoh Simpati

Contoh-contoh Simpati:
  • Menjenguk orang yang sakit
  • Membantu orang yang tertimpa musibah
  • Menolong orang yang kesusahan
  • Membantu memecahkan masalah seseorang
  • Membantu korban bencana alam
  • Meringankan biaya sekolah
  • Turut berduka cita atas meninggalnya seseorang
  • Menghibur teman yang sedang bermasalah
  • Mengucapkan selamat kepada orang yang sedang berbahagia
  • Memberikan sebagian harta kepada orang yang kurang mampu
  • Turut berbahagia atas keberhasilan orang lain
  • Mendirikan panti asuhan bagi anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar
  • Mendirikan tenda dan posko bantuan untuk korban bencana alam

E. Kesimpulan Dan Saran Mengenai Simpati

Bahwa sesungguhnya Simpati itu merupakan sikap peduli terhadap sesama yang muncul dari hati seseorang yang merasakan apabila hal yang dirasakan orang lain itu terjadi kepadanya. Sikap Simpati sebenarnya bersifat positif karena muncul dari hati nurani manusia sehingga apabila sikap Simpati dimiliki oleh seseorang maka orang tersebut itu perilakunya akan selalu tertuju kepada hal yang positif bukan negatif.
Sikap Simpati juga dapat berupa pendapat terhadap suatu hal dengan cara memberikan suatu komentar terhadap hal tersebut. Simpati juga bersangkutan dengan peyimpangan sosial yaitu mengubah seluruh penyimpangan yang ada menjadi kedalam bentuk yang positif. Pada dasarnya Simpati adalah suatu sikap tertarik kepada orang lain karena sesuatu hal mungkin karena menarik penampilannya, mungkin karena kebijaksanaanya atau karena pola pikir yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang yang menaruh Simpati.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Simpati antara lain kesamaan pandangan, kesamaan kepentingan, kesamaan faktor-faktor histois, kesamaan rasial.
Simpati itu sebenarnya telah dimiliki oleh semua orang tetapi orang kadang-kadang tidak menyadarinya dan membiarkannya begitu saja. Buktinya semua orang dapat merasakan penderitaan orang lain dari dalam hatinya yang sangat dalam.

2 komentar:

  1. rujukan bukunya?

    BalasHapus
  2. ini dari buku sosiologi kls 1 smp
    terbitan erlangga kayaknya :D

    BalasHapus